Senin, 10 Maret 2008

BERHENTI SEJENAK

Perenungan di Tahun Baru Caka kemarin membawa saya pada satu titik,berhenti mencari.......Kami berdua sudah lelah pada pencarian ,saatnya berhenti dan menoleh kekeranjang pencarian apa saja yang sudah kami kumpulkan dari hasil pencarian itu.

Saat mulai berjalan berkeliling mengarungi bahtera rumah tangga,mendayung perahu diluas samudra,kami berdua memulai pencarian tanpa arah tujuan.Kami tidak tahu persis apa yang kami cari dan kemana harus kami cari waktu itu.Bahkan kami berdua hanya tahu kami berada dalam satu perahu,namun tidak tahu apakah kami sudah satu tujuan,apakah yang kami cari sudah serupa.

Selayaknya bukan, jika kita berada di satu perahu yang sedang melaju mengikuti waktu tentu kita harus yakinkan ,sebelum naik bahkan,bahwa arah tujuan semua orang yang ikut diperahu haruslah sama,apa yang dicari layaknya serupa,berpemimpin seorang nahkoda terpercaya,berawak seluruh orang yang kuat dan cerdas, cekatan dan tentunya patuh pada sang nahkoda.

Buat kami saat awal menikah semua itu tidak terpikir,kami hanya naik keperahu yang langsung melaju oleh waktu hanya berdasarkan satu hal,kami tidak bisa naik ke perahu yang berbeda,kami akan kehilangan hidup bila dipisah diperahu yang berbeda .

Kami berdua telah mencobanya menuju kearah perahu yang berbeda,namun menjelang naik masing masing memutuskan untuk menoleh dan berlari mendekat sampai akhirnya naik keperahu yang sama karena kami bahagia saat bersama ,saat itu.Kami butakan hati tentang apa rasa kami selanjutnya,yang kami tahu saling mengenal selama sembilan tahun, kami memang lebih bahagia bila bersama.Itu saja.......Egoisme manuasia muda.........(hik...menangis aku membaca ulang tulisan ini,narsis ya....biarin ah...sekali sekali nulis yang manis, mau buktiin gitu kalo isi otak kita ngk cuma bisnis he..he..he...).

Lalu ditengah arung samudra hidup kami banyak diterjang ombak,badai,ikan buas ,batu karang ah...macam macam deh.Langit biru juga terkadang kami lihat,pelangi nan indah juga samar terlihat,pulau kecil nan subur juga kadang menggoda.Lalu kami mulai belajar,ketika melihat langit biru selepas badai kami berunding "wah.... lebih nyaman ya suasana langit biru ini dibanding badai kemarin,mungkin kita harus pandai mengarahkan layar agar selalu terbawa kelangit cerah".

Atau saat semburat pelangi membayang,kamipun sontak berunding lagi ,"wah...seluruh awak kapal akan lebih gembira bila sering sering melihat pelangi",atau ketika hujan deras membuat awak kapal ,yang mulai bertambah oleh titipan Tuhan ,si bayi bayi mungil, panik.Kami tidak lagi memikirkan diri sendiri, yang kami tahu, kami harus menghangatkan bayi bayi mungil ini.

Kami belajar mencari ikan,mencari kerang ,menggunakan berbagai cara,kail,pancing, jaring.Kami belajar mendayung,mengayuh ,melaju ,mengimbangi ganasnya alam.Banyak yang kami dapat dalam pencarian itu,tapi setelah menengok kekeranjang pencarian ,kami tidak melihat apa yang benar benar kami inginkan.Karena kami tidak pernah tahu apa yang kami cari........Kami masih dalam proses belajar dari alam.....

Lalu kembali keperayaan Tahun Baru Caka kemarin..........
Kami memutuskan berhenti sejenak.........seluruh alat komunikasi di non aktifkan setelah selesai mengucapkan selamat hari raya pada sanak keluarga.Tidak lupa permohonan maaf atas semua..Handphone,telepon,laptop,semua disimpan sementara.Kami menikmati suara alam,burung ,cicak,daun,even breath,I can here my kid breathed clearly,so smooth so nature,it was back to nature............................

Kami berbincang ,"coba Bli", sebutku pada suamiku tercinta,"kita liat liat isi keranjang yuk.Sepanjang hidup sejauh ini kita selalu mencari, lalu apa saja yang sudah kita dapat",kataku bijak.Aku memang si filosofis,aku lebih banyak sentuhan mind-nya ketimbang suamiku yang lebih rasional.Beliau lebih suka yang nyata nyata saja,jalani hidup apa adanya ,kita ya kita,hari ini ya hari ini,hidup yang begini,jalani saja ,jangan banyak bicara ,ikuti saja,jangan pernah bilang ya untuk tidak ato sebaliknya.Itu suamiku banget deh..........

Tapi pada perayaan tahun Baru Caka kali ini............ seperti jadi kesepakatan tim perahu,kami duduk berdua berbincang santai sembari mendengarkan suara alam yang tiba tiba seperti suara suara baru yang cuma bisa kami dengar setahun sekali dikala Nyepi.Benar benar ,hiruk pikuk kota menelan seluruh suara alam dibumi ini.

Pembaca yang budiman harus menikmati sensasi Nyepi Di Bali,rasanya lebih alami daripada mendengarkan CD Erbe Sentanu tentang Upgrade otak yang sudah saya buktikan memang manjur itu.(BAGI ANDA YANG BERMINAT MERASAKAN SENSASI NYEPI DIBALI SILAHKAN HUBUNGI KAMI ,he....he... Promo dikit boleh dong).

Setelah cukup lama kami mulai menata apa yang kami pungut dikeranjang kami terpukau, sudah banyak sekali yang kami kumpulkan , saatnya menata.

Ternyata kami berhasil menentukan nahkoda tanpa sadar selama ini,ternyata sejauh arung samudra Bli-ku, sang bapak sang suami ,telah memimpin kami mengarahkan layar,terbukti banyak hal dirumah ini terjadi , dan ada atas keputusannya.Contoh kecil ,saya tetap bekerja dan kami menggunakan jasa pembantu atas dorongannya,meski keinginanku dulu kuat untuk tinggal dirumah mengasuh anak anak.Terimakasih Bli,arah layar itu yang membuat kita sampai disini,di kemandirian hidup berumah tangga.Contoh besar,kami tetap tinggal di Denpasar sampai sekarang,padahal dulu besar godaan untukku pulang kekampungku sendiri saja ,dimana kami dijanjikan kemanjaan hidup bersama orangtua tanpa harus pontang panting mengisi periuk nasi.Tapi lagi lagi keputusan dimenangkan oleh sang Bli yang memintaku bersabar menjalani hidup di atas kaki sendiri.Bukankah itu berarti kami telah memutuskan siapa nahkoda di perahu kecil kami?.

Kami lihat lagi kedalam keranjang.Tenyata selama ini kami memakai cinta sebagai bahan bakar perahu kami agar tetap laju.Terbukti kami berdua selalu kembali oleh cinta ketika berulang kali badai memisahkan kami,kami selalu berjuang sebagai tim saat topan berusaha merebut anak anak kami,cinta pada mereka ternyata prioritas kami,mengalahkan keinginan yang lain sebesar apapun keinginan itu.Tak usah diingatkan kembali berapa banyak badai untuk cinta kami delapan tahun ini,tapi toh sampai sekarang tak bisa diingkari kami selalu berempat disini sebagai bahan bakar perahu ini agar tetap laju.Pelukan kami berempat ,dengan tetap mengutamakan keselamatan bayi bayi kecil kami,menempatkannya didalam perlindungankami berdua membuat bahan bakar ini tetap cukup untuk perahu kecil kami....Semoga selalu begitu

Setitik air mata tak terasa membasahi pipi ketika ras syukur atas isi keranjang mulai memunjah diubun ubun.Kali kembali melihat isi keranjang.....

Ternyata selama ini kami sudah mencoba lebih dari cukup alat untuk memancing ikan,agar kami bisa menghidupi awak perahu ini.Sang nahkoda sudah mencoba 10 jenis pekerjaan berbeda.Memang tidak ada yang bertahan lama,beragam pula alasannya.Sekarang beliau sadar, kenapa selalu merubah alat pancing sementara tak ada ikan besar yang didapat?.Karena beliau sendiri tak tahu apa yang mau dipancing ,untuk apa memancing dan dimana harus memancing.Sekarang beliau tahu bukan merubah alat pancing yang diperlukannya lagi.Kenapa harus memancing, itu yang beliau baru sadari.Pekerjaanya sekarang adalah pekerjaan terlama yang dijalaninya ,karena dia selalu bilang Bli nggak bisa berhenti bekerja lagi untuk mencoba pekerjaan baru,bukan hanya karena Bli cocok dengan pekerjaan ini, tapi karena mulut mulut kecil bayi bayi kami selalu menengadah memohon disuapi agar terus hidup dan tumbuh seperti keinginan kami yang menyayanginya.Waktu tidak bisa dimohon berhenti sebentar agar kami bisa istirahat ,waktu terus berputar tak ada habisnya dan mereka butuh lebih dan lebih seiring tubuh mereka.Bli sekarang sadar,tujuan memancing adalah mencari ikan penghidupan untuk anugrah Sang Hyang Widhi ini ,dua bayi kecil kami.Bli sekarang sadar apapun alat pancingnya, tujuan utamanya adalah mendapat ikan yang besar dan lebih besar mengikuti pertumbuhan sang anak anak.Bli sekarang sadar apaun alat pancingnya, maka haruslah cukup handal untuk mampu menangkap ikan yang lebih besar atau lebih banyak.Bagaimanapun strateginya ,ikan tangkapan haruslah cukup untuk semua kebutuhan awak kapal.Bila bersisa haruslah mampu beryadnya(berderma-k) kepada sesama dan kepada yang Maha pemurah yang telah melimpahkanya.

Jelas sekali sekarang,tujuan kami memancing,apa yang harus kami pancing,cara apa yang harus kami pakai, maka kami berhenti sejenak ,memilah milah isi keranjang, memilih yang bagus ,menyingkirkan yang buruk.Karena delapan tahun arungi samudra dan hanya mencari cari tanpa tahu yang kami cari tentu banyak juga muntahan,kotoran,bau busuk,dan hal buruk lain yang masuk dalam keranjang.

Kami memutuskan berhenti sejenak dihari raya Nyepi ini,untuk menata kembali layar ,pancing ,perahu dan mental awak kapak agar kembali mengarungi samudra dengan cara yang berbeda.

Kami tahu arah perahu ini untuk sementara :
-Kesehatan keluarga,kemapanan finansial,tawa anak anak,dan seluruh awak kapal.

Kami tahu kemana perahu ini melaju :
-Kembali pada Yang Esa,dimana letak seluruh kesempurnaan berada,sebelum sampi disana kami harus menyiapkan amal,yadnya kepada alam,umat dan Yang Esa ,sebanyak yang kami mampu.

-Mengantar anak anak ini ke tempat sejahtera,kami harus mengarahkan layar kesana,mendidiknya,menyekolahkanya,menghidupinya,menyiapkan masa depannya,agar mereka berdua lebih siap dari kami mengarungi samudra hidup

-Mengantarkan seluruh balas budi diperahu ini kepada orang tua kami ,tentu orang orang yang telah membuat kami ada didunia ini yang utama ,namun tak lupa juga isi perahu ini yang berupa oleh oleh kebahagiaan akan kami haturkan juga kepada orang tua orang tua yang telah membantu kami mengarungi samudra.Banyak orang yang berperan dalam hidup kami.Tujuan perahu rumah tangga ini salah satunya adalah menyiapkan dan mengantarkan isi kebahagiaan itu kepada mereka.

Kami sudah menemukan alat memancing ikan untuk memenuhi perahu kami :
-Sang Bli sudah berhenti pada satu titik pekerjaannya yang sekarang dan meskipun dia terpaksa harus mengganti alat pancingnya nantinya(semoga tidak) ,bukan karena dia masih mencari cari alat yang cocok,tapi karena dia sudah yakin pancing pengganti menghasilkan ikan yang lebih besar,katanya.
-Sang juru masak ,juru hitung,juru tambal,guru les anak anak,pembantu seluruh keperluan perahu,yaitu (ehm,ehm) saya sendiri,saya tahu harus tetap berpegang pada titah sang nahkoda,tetap membantu tanpa mengeluh,tetap strike berhitung agar tetap bisa bertahan hidup meskipun musim badai,tak lengah mendidik anak anak meskipun sambil menambal kebutuhan ekonomi.Saya tahu tujuan utama kami dan saya akan membantu perahu ini sampai kesana apapun caranya, sambil tetap belajar bersama waktu.Saya menambah alat pancing kami tahun ini ,kami punya phototour,setelah kelontong dan mengelola kost kostan.Saya memutuskan satu kail besar yaitu pekerjaan saya disebuah perusahaan jepang,demi memaksimalkan peran sebagai pembantu diperahu ini.Anak anak butuh saya lebih banyak ,untuk belajar diperahu ini.

Berhenti sejenak di hari Nyepi..................
Hari ini kami telah melaju kembali tanpa bisa melawan karena waktu tak bisa berhenti ,bahkan detikpun adalah waktu yang berjalan....Maka hari ini perahu kecil kami kembali mengarung samudra seperti delapan tahun terdahulu.Hanya saja...sekarang kami tahu kemana perahu ini harus dilaju,siapa nahkodanya ,apa peran kami diperahu ,mengapa kami harus mendayung perahu ,mengapa kami harus memandu layar ,mengapa kami harus tetap memancing ,apa yang kami pancing,dimana kami harus memancing,dimana kami bisa melihat langit biru,pelangi dan bintang nan indah ,bagaimana kami menghindar badai ,topan dan karang.....kami banyak belajar.....

Namun kami hayalah manusia,kami hanyalah mahluk Tuhan(meskipun bukan yang paling seksi...he..he..emang Mulan Kwok),kami tetap iklas menjalani seluruh arung samudra ini,kami pasrah pada kehendak yang Maha Tahu,kami bersyukur bila semua yang kami tuju tercapai,terhindar bencana, namun kami tetap pasrahkan seluruh perahu dan isinya kepada yang Maha Penguasa.Kami percaya Widhi.Bila kehendaknya kami percaya semua itu memang sudah garis kami,alur arung samudra kami,yang sudah disiapkan agar kami menemukan hikmah dibaliknya ,seperti kami belajar dulu betapa indahnya langit biru selepas badai hitam.Kami belajar bersyukur,menikmati keindahan ,menyadari kebesaran YangEsa,lalu menikmati kebahagiaan.Mungkin kami tidak pernah tahu apa rasanya bahagia melihat lagit cerah bial kami tidak pernah dicobakan badai kelam nan menyakitkan............................

Ah....Nyepi kali ini ,...........................................

Tidak ada komentar: