Kemarin pulang kerja saya langsung meluncur ke Tiara Dewata .Meskipun gerimis menghujam(hi..hi,biarin aja sekali sekali norak dong),tapi udah nggak nahan lagi ngilunya kaki.Sepanjang malam tidur selalu terganggu karean nyeri otot kaki,bener bener nyiksa dech.Udah berasa kayak nenek nenek aja.Bawaannya juga jadi banyak kata "aduh" meringis,dan cemberut.Nggak baik kan untuk orang orang disekitar kita.Buat saya keluhan bener bener hal yang tidak menyenangkan orang lain dan tidak menyenangkan buat orang lain adlah hal yang paling menusuk hati saya.Karena saya akan merasakan tidak nyaman ,sangat teramat sangat tidak nyaman berada didekat orang yang banyak mengeluh.
Ini sering kali memicu percikan api ribut diantara kami berdua ,jika si abang sudah mulai mengeluh akan sesuatu sakit misalnya (padahal mungkin saat itu dia memang benar benar mersakan sakit he..he..),saat saya lihat dia baik baik saja ,rasa tidak nyaman langsung saja deras menghantam dada.Saat itu saya merasa si abang tidak ada secara mental,saya merasa dia bukan dia,sementara dia yang terpancang dibenak adalah dia yang selalu tegar,kuat ,hebat,selalu lebih segalanya dibanding saya.Padahal "abang juga manusia~~~~"nyanyinya ...he..he...he
Suatu kali Ibu saya menginap dirumah kami,kami senang,anak-anak riang dan Beliau tampak sehat sehat saja.Ibu adalah sosok tertegar diseluruh dunia dimata saya,karena saya menyaksikan getirnya hidup beliau sejak saya kecil.Dan saya tidak pernah melihat Beliau lemah ,dalam keadaan apapun.Tiba tiba ditengah segala keriangan dihari itu ,beliau banyak mengeluh dimalam hari,tidak begitu berselera pada hidangan apapun,tidak bisa tidur nyenyak,banyak mengeluh soal tubuhnya,keluarga,dan banyak lagi.Sampai akhirnya Beliau ingin kami tidur bersama anak,menantu ,cucu dalam satu kamar ,kamar yang diinginkan kebetulan sempit banget untuk ditempati segitu banyak orang.Saat itu ,meskipun sangat egois kedengarannya,saya sangat tidak nyaman.Seluruh bahasa tubuh saya mengatakan saya tidak nyaman.Sangat jelas,mengahadapi Beliau yang sudah sepuh(saat itu Ibu saya sudah 50-an)dan menghadapi keluhan yang sangat wajarpun saya tetap sangat terganggu.
Saya seharusnya senang kan,sekarang waktunya berganti memanjakan Ibu,bukankah orang kembali menjadi anak anak ketika berubah usia semakin tua?Seharusnya saya tersenyum geli karena melihat tingkah Ibu yang saya sangat cintai sudah mulai berubah dan seharusnya saya semakin care karena nelangsa ternyata Ibu sudah semakin sepuh.
Buah ini tidak jatuh jauh dari pohonnya.Putri sulung saya,sekarang 5 tahun juga ternyata memiliki karakter yang sama,atau mingkin benar telaah buku buku itu,anak adalah peniru yang sempurna.Mungkin dia hanya meniru apa yang jadi kebiasaan saya .Mungkin say aharus memperbaiki prilaku saya disana sini agar anak tidak sempat merecord karakter yang tidak baik.sisulung sudah mulai terdiam mendadak ketika adiknya mengeluh tentang mainan,kakinya,sepatunya dan lain lain.Dia akan langsung berlari memeluk saya dan dengan muka kecewa,dan ketika say tanya benar saja,"kakak nggak suka ajak adik,soalnya ade tu kerjanya cengeng ,cerewet.Dikit dikit cengeng"katanya meskipun tidak menyakiti siapapun tapi saya bisa merasakan (karena saya sering merasakan hal yang sama)kekecewaannya,ketidaknyamannya ,menyakiti dirinya sendiri.Terkadang kami harus belajar menrima bahwa tidal semua hal didunia ini sesempurna harapan kita.Say akan melatih diri untuk menrima itu agar sisulung bisa meniru penerimaan yang sama.
Maafkan Ibu nak.......Ibu terlambat menyadarinya,tapi tidak akan ibu biarkan kamu menyakiti perasaanmu sendiri lagi...................
(nah lo....apa hubunganya coba sama,ke Tiara dewata dan nyeri di kaki.....ah besok beso aja deh ceritanya udah keburu belok nih focus)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar