Sabtu, 19 Januari 2008

Saya minta pada semesta

Seorang teman tiba-tiba mengirim sms dihari minggu ini,toko kamu mau bangkrut ya?,tanyanya.Saya kaget ,melongo ,bengong untuk sesaat.Teman ini adalah salah seorang teman dekat yang sering lewat depan rumah dan terkadang mampir.Apa yang terjadi dirumah ,pikir saya,karena kebetulan hari minggu ini saya memilih menyelesaikan tugas kantor ,agar rabu nanti bisa ikut merayakan hari raya besar umat kami di Bali.

Lalu setelah saling balas sms,saya baru mendapat penjelasan dari sms yang sangat tidak jelas itu.Ternyata ada coretan grafity iseng anak anak muda si pintu rolling door toko kelontong kami.Teman dekat yang sedang melintas didepan toko tentu bisa melihat dengan jelas coretan berukuran tidak lebih dari 30 cm itu karena hari minggu ini kami meliburkan toko menjelang hari raya umat ini.

Saya langsung sms kerumah memberitahu hal ini dan dalam waktu 30 menit replay sms telah masuk bahwa coretan grafity yang menggangu tersebut telah dihapus dengan pembersih cat pilox seharga Rp.12.000.

Saya langsung teringat sebuah artikel salah seorang anggota sebuah komunitas yang didirikan oleh Pak Ronny yang sering kali jadi acuan saya untuk blogging walking kalo lagi weekend gini.Entah yang mana tapi tulisan itu membahas tentang anchor yang bisa bisa berefect positif maupun negatif akan sesuatu.Coretan atau noda kotor dipintu sebuah toko bisa jadi pertanda bahwa toko itu tidak menuju kearah kemajuan.Buktinya teman saya bertanya dengan pertanyaan yang sangat bernada negatif"tokomu menjelang bangkrut ya?"

Pertanyaan ini langsung saja menarik seluruh energi negatif semesta saya untuk sesaat,saya begitu saja terpaku pada kata "bangkrut" di sms itu.Saya terbayang bagaimana keadaan toko jika bangkrut,kemarahan dan kekecewaan langsung menyergap,lalu sms bernada marahpun terkirim keorang rumah.Saya yakin sms itu berikutnya akan mengundang kemarahan beruntun dari suami saya,ke anak buahnya ,kepenjaga rumah ,keanak kost,bahkan mungkin ke anak anak tetangga yang sering kali nongrong didepan toko kami dimalam hari.

Padahal itu hanyalah coretan kecil yang jika kami tanggapi dengan tenang akan terhapus dalam waktu lima menit bahkan kurang.Namun mungkin seperti yang dikatakan salah satu artikel tadi ,kami sangat terpengaruh oleh anchor yang berupa negatif image itu,bahwa coretan kotor dipintu toko menandakan toko kami di ambang kebangkrutan.

Setelah coretan itu hilang ,masih duduk dikursi kantor ini ,saya menjadi tersadar betapa kami sangat mensyukuri semua limpahan ini,kami menjaga amanat ini sepenuh hati,seolah semua yang dititipkan Tuhan melalui tangan orang tua kami ini adalah milik orang yang kami pinjam tanpa bunga dan riba ,kami hanya harus menjaganya ,sebagai rasa terimakasih kami.Menjaga seperti layaknya kami menjaga diri kami sendiri.

Kami akan lebih hati-hati dalam menghadapi segala macam situasi,meskipun situasi yang mengundang reaksi negatif ,toh tetap harus ditanggapi dengan penuh iklan dan positif agar semesta mereply positif apa yang kami minta.Lain kali jika hal ini terjadi lagi seharusnya kami tersenyum dulu,berterimakasih pada semesta yang telah memberitahu dengan sangat cepat anchor negatif tersebut melalui teman saya yang diposisikan pada kondisi melintas didepan toko dan melihat grafity tersebut .Lalu kami akan segera membersihkannya dan melihat bahwa pintu itu justru kelihatan lebih bersih sekarang karena rolling door yang selalu terbuka tentu luput dari perhatian kami selama bertahun tahun untuk membersihkannya.kami harap semesta akan mengabulkan permintaan kami agar lebih banyak pembeli yang optimis akan keadaan persediaan toko kami dan berbelanja disana karena rolling door yang tampak bersih.Semesta selalu mengabulkan apapun yang kita minta kan?.Karena selalu tersedia lebih dari cukup pembeli yang disediakan semesta untuk setiap diri manusia yang bekelimpahan pada kodratnya.

Keyakinan ini selalu menjadi acuan saya ketika saya down ,atau ketika sebuah rencana menyisakan keraguan.Satu demi satu keraguan akan pupus dan keyakinan akan keberhasilan sebuah rencana semakin jelas tergambar dibenak.Dan semestapun berkata jelas dibenak saya ,permintaanmu adalah tugasku.

Ada sebuah kata kata nyelekit dari teman satu ruang dikantor ini kemarin sore,ditengah perbincangan ringan mengenai rencana resign saya dari perusahaan ini ,dia berkata "jika kita yakin menang maka kita akan terus berusaha menyerang,karena itu jangan biarkan kepalamu lebih tinggi dari topimu,itu pendapat dari seorang filosofis"katanya................

Saya senatiasa mengaitkan perasaan seseorang dengan diri saya ,bukan defensif tapi hanya mawas diri jikalau sebuah pendapat bisa jadi review positif pada diri saya.Lalu saya berfikir apakah keputusan saya resign untuk menuju langkah maju ini merupakan sebuah kesombongan yang meletakkan kepala saya hingga diatas topi saya sendiri?.

Saya akan terus maju dengan tetap mawas diri.....................

Tidak ada komentar: